9 Hadis berkaitan tentang pentingnya ilmu , sedakah, akhlak dll
Seputar Hadis Nabi Berkaitan Tentang Ilmu, Sedekah, Akhlak DLL
Susi Susanti
Nim: 0331233039
Dasar agama Islam adalah ilmu dan akhlak mulia.Ilmu merupakan salah satu hal yang ditekankan untuk dicari dalam agama Islam. Maka dari itu, dianjurkan untuk senantiasa menuntut ilmu. Ilmu adalah satu hal yang cukup ditekankan dalam agama Islam, saking pentingnya terdapat banyak hadits berisi anjuran menuntut ilmu. Ilmu itu didokumentasikan dalam bentuk buku-buku yang disimpan di perpustakaan, kadang ilmu itu disimpan di flashdisk, kadang ilmu itu disimpan di server Google atau sejenisnya. Tapi kalau tidak diajarkan, maka ilmunya sama dengan yang diajarkan. hilang. Meninggalnya berarti punahnya sumber ilmu pengetahuan, karena orang-orang alim (ulama) adalah sumber ilmu sekaligus guru yang dengan leluasa dan jujur mewariskan ilmu itu kepada semua orang.
1. Hadis tentang bagaimana cara dicabutnya ilmu
سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال
إنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزعهُ مِنَ النَّاسِ، وَلكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِماً، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوساً جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأفْتوا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأضَلُّوا
Dari Abdullah bin Amru bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya dari (dada) manusia, tapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika Dia tidak menyisakan seorang pun yang berilmu, maka orang-orang pun menjadikan pemimpin mereka orang-orang yang bodoh, kemudian mereka ditanya lalu mereka pun memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan. (mutafaq alaih).[1]
“Hadits ini menjelaskan bahwa maksud diangkatnya ilmu yaitu sebagaimana pada hadits-hadits sebelumnya secara mutlak. Bukanlah menghapuskannya dari dada para penghafalnya, akan tetapi maknanya adalah wafatnya para pemilik ilmu tersebut. Manusia kemudian menjadikan orang-orang bodoh untuk memutuskan hukum sesuatu dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain”
2. Hadis Tentang Menjauhi Nafsu
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُسْلِمٍ عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ كَفَى بِالْمَرْءِ عِلْمًا أَنْ يَخْشَى اللَّهَ وَكَفَى بِالْمَرْءِ جَهْلًا أَنْ يُعْجَبَ بِعِلْمِهِ قَالَ و قَالَ مَسْرُوقٌ الْمَرْءُ حَقِيقٌ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَجَالِسُ يَخْلُو فِيهَا فَيَذْكُرُ ذُنُوبَهُ فَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى مِنْهَا
Telah mengabarkan kepada kami [Ahmad bin Abdullah] telah menceritakan kepada kami [Zaidah] dari [Al A'masy] dari [Muslim] dari [Masruq] ia berkata: "Cukuplah seseorang dianggap berilmu jika ia takut kepada Allah, dan cukuplah seseorang dianggap bodoh jika ia bangga dengan ilmunya, perawi berkata: Masruq berkata: 'Hendaknya seseorang memiliki tempat khusus yang ia pergunakan untuk menyendiri dan mengingat dosanya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah' ".[2]
Isi hadis ini memberikan nasihat tentang sifat seorang yang berilmu dan bijaksana dalam Islam. Berikut adalah poin-poin penting dari hadis tersebut:
- Cukuplah Seseorang Dianggap Berilmu Jika Ia Takut kepada Allah
Menekankan pentingnya takwa (ketakutan dan ketaatan kepada Allah) sebagai indikator utama kebijaksanaan dan keilmuan seseorang.
- Cukuplah Seseorang Dianggap Bodoh Jika Ia Bangga dengan Ilmunya
Menyatakan bahwa kesombongan dan kebanggaan terhadap ilmu yang dimiliki dapat menghapus nilai kebijaksanaan dan kebermaknaan ilmu tersebut.
- Tempat Khusus untuk Menyendiri dan Mengingat Dosa
Menganjurkan untuk memiliki waktu dan tempat khusus yang digunakan untuk introspeksi diri, mengenali dosa-dosa, dan memohon ampun kepada Allah.
- Mengajarkan Kerendahan Hati
Menekankan pentingnya sikap rendah hati dan kesadaran akan keterbatasan diri, bahkan jika seseorang memiliki pengetahuan yang luas.
Hadis ini mengandung ajaran moral dan spiritual, menunjukkan bahwa kebijaksanaan sejati bukan hanya tercermin dalam pengetahuan, tetapi juga dalam takwa, rendah hati, dan kesadaran akan dosa-dosa. Seiring dengan itu, hadis ini mendorong umat Islam untuk berusaha menjadi individu yang bertakwa dan rendah hati dalam mengaplikasikan ilmu yang dimiliki.
3. Hadis Tentang Anak yang Berbakti
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا عَامِرُ بْنُ أَبِي عَامِرٍ الْخَزَّازُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عَامِرِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ الْخَزَّازِ وَهُوَ عَامِرُ بْنُ صَالِحِ بْنِ رُسْتُمَ الْخَزَّازُ وَأَيُّوبُ بْنُ مُوسَى هُوَ ابْنُ عَمْرِو بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِي وَهَذَا عِنْدِي حَدِيثٌ مُرْسَلٌ
Telah menceritakan kepada kami [Nashr bin Ali Al Jahdlami], telah menceritakan kepada kami [Amir bin Abu Amir Al Khazzar], telah menceritakan kepada kami [Ayyub bin Musa] dari [bapaknya] dari [kakeknya] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada suatu pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada adab (akhlak) yang baik." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari haditsnya Amir bin Abu Amir Al Khazzar, ia adalah Amir bin Shalih bin Rustum Al Khazzar. Sedangkan Ayyub bin Musa adalah Ibnu Amr bin Sa'id bin Al Ash. Dan menurutku, ini adalah hadits Mursal.[Tirmidzi][3]
Hadits ini merupakan riwayat yang disampaikan oleh Ayyub bin Musa, yang mendengar dari bapaknya, yang pada gilirannya mendengar dari kakeknya, yang meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidak ada suatu pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada adab (akhlak) yang baik."
Hadits ini menekankan pentingnya adab atau akhlak yang baik sebagai pemberian terutama dari seorang ayah kepada anaknya. Adab yang baik di sini mencakup perilaku yang benar, budi pekerti yang mulia, serta tata krama dalam bersikap dan berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, hadits ini mengajarkan nilai-nilai moral dan etika dalam hubungan keluarga, dengan menekankan bahwa pemberian terbaik dari seorang ayah kepada anaknya adalah membimbingnya untuk memiliki akhlak yang baik.
4. Hadis Tentang Meringankan Kesulitan Orang lain
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي ح و حَدَّثَنَاه نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ صَخَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ غَيْرَ أَنَّ حَدِيثَ أَبِي أُسَامَةَ لَيْسَ فِيهِ ذِكْرُ التَّيْسِيرِ عَلَى الْمُعْسِرِ
Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya At Tamimi] dan [Abu Bakr bin Abu Syaibah] dan [Muhammad bin Al 'Ala Al Hamdani] -dan lafadh ini milik Yahya- dia berkata; telah mengabarkan kepada kami, dan berkata yang lainnya, telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] dari [Al A'masy] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim. Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al Qur'an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barang siapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya.' Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Abdullah bin Numair] telah menceritakan kepada kami [Bapakku] Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakannya kepada kami [Nashr bin 'Ali Al Jahdhami] telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] -telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair- dari [Abu Shalih]. Sebagaimana di dalam hadits Abu Usamah Telah menceritakan kepada kami Abu Shalih dari [Abu Hurairah] dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata dengan lantang, -sebagaimana Hadits Abu Mu'awiyah, hanya saja di dalam Hadits Abu Usamah tidak disebutkan; memberi kemudahan kepada orang yang kesusahan.'[Muslim][4]
Hadits yang Anda sampaikan merupakan rangkaian sanad atau isnad (rantai perawi) yang melaporkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW. Ini adalah sebuah hadits yang menyampaikan sejumlah ajaran moral dan etika Islam, serta menunjukkan nilai-nilai seperti kebaikan, tolong-menolong, dan pentingnya menutupi aib sesama muslim.
Berikut adalah rangkuman dari hadits:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
1) Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat.
2) Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat.
3) Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.
4) Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim.
5) Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya.
6) Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al-Qur'an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya.
7) Barang siapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya.
Hadits ini menekankan pentingnya berbuat baik kepada sesama, menolong orang yang kesulitan, menutupi aib, mencari ilmu, dan berkumpul untuk beribadah di masjid. Hadits ini juga menegaskan bahwa Allah akan membalas kebaikan dengan kebaikan, dan setiap tindakan baik akan mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat.
5. Hadis Tentang Sedaqah
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَعْلَى عَنْ نَاصِحٍ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ يُؤَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَنَاصِحٌ هُوَ أَبُو الْعَلَاءِ كُوفِيٌّ لَيْسَ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ بِالْقَوِيِّ وَلَا يُعْرَفُ هَذَا الْحَدِيثُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَنَاصِحٌ شَيْخٌ آخَرُ بَصْرِيٌّ يَرْوِي عَنْ عَمَّارِ بْنِ أَبِي عَمَّارٍ وَغَيْرِهِ هُوَ أَثْبَتُ مِنْ هَذَا
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah], telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Ya'la] dari [Nashih] dari [Simak bin Harb] dari [Jabir bin Samurah] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seseorang yang mengajari anaknya tentang kebaikan adalah lebih baik baginya daripada ia bersedekah sebanyak satu sha'." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits gharib. Nashih adalah Abul Ala` Kufi, menurut Ahli hadits ia bukanlah termasuk rawi yang kuat. Dan hadits ini tidak diketahui kecuali dari jalur ini. Sedangkan Nashih adalah seorang syaikh yang lain, ia berasal dari Basrah dan meriwayatkan dari Ammar bin Abu Ammar dan juga selainnya, dan ia lebih kuat dari pada yang ini.[Tirmidzi][5]
Hadits ini menekankan pentingnya mendidik anak-anak dalam hal kebaikan. Rasulullah menyatakan bahwa mengajari anak-anak tentang kebaikan memiliki nilai yang lebih tinggi daripada bersedekah dengan sejumlah uang. Hadits ini memberikan penekanan pada nilai pendidikan dan pengajaran dalam Islam serta pentingnya mendidik generasi muda agar menjadi individu yang baik dan bertanggung jawab dalam masyarakat.
6. Hadis Tentang Mengulangi Pembicaraan 3x
حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الصَّفَارُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا ثُمَامَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ وَإِذَا أَتَى عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ سَلَّمَ عَلَيْهِمْ ثَلَاثًا
Telah menceritakan kepada kami ['Abdah bin Abdullah Ash Shafar] Telah menceritakan kepada kami [Abdushshamad] berkata, Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Al Mutsanna] berkata; [Tsumamah bin Abdullah] telah menceritakan kepada kami dari [Anas] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila berbicara diulangnya tiga kali hingga dapat dipahami dan bila mendatangi kaum, Beliau memberi salam tiga kali.[Bukhari][6]
Hadis ini memberikan gambaran tentang cara Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam berbicara dan bersalaman. Prinsip pengulangan ini menunjukkan kejelasan dan pentingnya pesan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan mengulang kata-kata atau salam sebanyak tiga kali, beliau menekankan kepentingan pesan tersebut agar dapat dipahami dengan baik oleh pendengar atau kelompok yang beliau sampaikan. Penting untuk diingat bahwa hadis ini perlu dipahami dan diinterpretasikan dalam konteks lebih luas dari ajaran Islam dan kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memahami maksud dan hikmah di balik ajaran tersebut.
7. Hadis Tentang Mmemudahkan Semua Urusan Tidak Mempersulit
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو التَّيَّاحِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] berkata, telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] berkata, telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] Telah menceritakan kepadaku [Abu At Tayyah] dari [Anas bin Malik] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "permudahlah dan jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari."[Bukhari][7]
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan menggambarkan ajaran dan tindakan Rasulullah Muhammad ﷺ. Hadis tersebut menyampaikan beberapa ajaran penting dalam Islam, khususnya terkait dengan perilaku dan sikap seorang Muslim.
1. Permudahlah dan Jangan Persulit
Rasulullah mengajarkan umatnya untuk mempermudah urusan dan tidak membuatnya sulit. Ini mencakup sikap ramah, keramahan, dan kesabaran dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Islam mengajarkan toleransi dan kelembutan dalam berbagai aspek kehidupan.
2. Berilah Kabar Gembira
Memberikan kabar gembira merupakan salah satu aspek positif dalam Islam. Rasulullah mengajarkan untuk menyebarkan kebahagiaan dan memotivasi orang lain. Ini mencakup memberikan dukungan moral, berbagi kegembiraan, dan menjadi sumber inspirasi bagi orang lain.
3. Jangan Membuat Orang Lari
Pesan ini menekankan pentingnya membangun hubungan yang baik dan tidak menciptakan situasi atau perilaku yang dapat membuat orang menjauh atau merasa tidak nyaman. Rasulullah mengajarkan agar umat Islam saling mendekatkan hati dan menjauhi sikap atau tindakan yang dapat merusak hubungan antar sesama.
Hadis ini mencerminkan ajaran Islam tentang etika, akhlak, dan tata cara berinteraksi sosial. Rasulullah ﷺ menjadi contoh teladan bagi umat Islam dalam segala aspek kehidupan, dan hadis seperti ini memberikan pedoman untuk mengembangkan sikap yang baik dan membangun hubungan yang sehat dengan sesama manusia.
8. Hadis Tentang Pemulaan Penciptaan Makhluk
حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قِيلَ لِأُسَامَةَ لَوْ أَتَيْتَ فُلَانًا فَكَلَّمْتَهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتُرَوْنَ أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ إِنِّي أُكَلِّمُهُ فِي السِّرِّ دُونَ أَنْ أَفْتَحَ بَابًا لَا أَكُونُ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ وَلَا أَقُولُ لِرَجُلٍ أَنْ كَانَ عَلَيَّ أَمِيرًا إِنَّهُ خَيْرُ النَّاسِ بَعْدَ شَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا وَمَا سَمِعْتَهُ يَقُولُ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنْ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ رَوَاهُ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ
Telah bercerita kepada kami ['Ali] telah bercerita kepada kami [Sufyan] dari [Al A'masy] dari [Abu Wa'il] berkata; "Dikatakan kepada [Usamah]; "Seandainya kamu temui fulan ('Utsman bin 'Affan radliallahu 'anhu) lalu kamu berbicara dengannya". Usamah berkata; "Sungguh jika kalian memandang aku tidak berbicara dengannya, selain bahkan kuperdengarkannya kepada kalian semua. Sungguh aku sudah berbicara kepadanya secara rahasia, dan aku tidak membuka suatu pembicaraan yang aku menjadi orang pertama yang membukanya. Aku juga tidak akan mengatakan kepada seseorang yang seandainya dia menjadi pemimpinklu, bahwa dia sebagai manusia yang lebih baik, setelah kudengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam". Mereka bertanya; "Apa yang kamu dengar dari sabda Beliau Shallallahu'alaihiwasallam ". Usamah berkata; "Aku mendengar Beliau bersabda: Pada hari qiyamat akan dihadirkan seseorang yang kemudian dia dilempar ke dalam neraka, isi perutnya keluar dan terburai hingga dia berputar-putar bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik mesin gilingnya. Maka penduduk neraka berkumpul mengelilinginya seraya berkata; "Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu?. Bukankah kamu dahulu orang yang memerintahkan kami berbuat ma'ruf dan melarang kami berbuat munkar?". Orang itu berkata; "Aku memang memerintahkan kalian agar berbuat ma'ruf tapi aku sendiri tidak melaksanakannya dan melarang kalian berbuat munkar, namun malah aku mengerjakannya". [Ghundar] meriwayatkannya dari [Syu'bah] dari [Al A'masy].[Bukhari][8]
Hadis tersebut menggambarkan gambaran mengerikan tentang seseorang pada hari kiamat yang pernah memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, namun dia sendiri tidak melaksanakannya. Pada hari kiamat, orang tersebut akan dilempar ke dalam neraka, dan tubuhnya akan mengalami siksaan yang sangat berat. Para penduduk neraka akan bertanya kepadanya mengapa dia berada dalam keadaan seperti itu, padahal dia pernah memerintahkan kebaikan. Namun, orang tersebut akan mengakui bahwa dia hanya memerintahkan kebaikan kepada orang lain tetapi tidak melaksanakannya sendiri. Bahkan, dia juga melarang orang lain untuk menjauhi kemungkaran, tetapi dia sendiri terlibat dalam perbuatan tersebut. Hadis ini mengandung peringatan serius tentang pentingnya konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Hanya memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran tanpa mengamalkannya sendiri dapat membawa seseorang pada akibat yang sangat buruk di akhirat. Hadis ini menunjukkan bahwa seseorang harus hidup sesuai dengan nilai-nilai yang dia anjurkan kepada orang lain agar mendapatkan keberkahan di dunia dan akhirat.
Referensi
Abdurrahman, Abu Muhammad Abdullah Bin. Musnad Addarimi Cetakan Pertama. Edited by Dar Al-Mughni. Saudi Arabiah, 2000
Al-Jufi, Muhammad bin Isamil Abu Abdillah Al- Bukhari. Kitab Al-Jami Musnan As-Shahih Cetakan 1. Saudi Arabiah: Dar tuqan najah, 2001.
An-Naisabururi, Muslim bin Al-Hajjaj Abu Al-Hasan AL-Qusyairy. Kitab Al-Musnad As-Shahih. Beirus : Dar Ihya At-Turats Al-Arubi,
Rathomy, Mohammad Andsi. Terjemah Hadis Bukhari Jilid 1. Toko kita. Surabaya, 1981.
Rathonay, Mhammad Andai. Terjemah Hadis Shahih Bukhari Jilid 1 Cetakan Kedua. Surabaya: Toko Kitab ’ Al Asriyah", 1981.
Rathoniy, Muhammad Andai. Terjemah Hadis Shahih Bukhari Jilid Cetakan Ke 2. Surabaya: Toko Kitab ’ Al Asriyah", 1981.
Saurabh, Muhammad bin Isa bin. Al-Jami Al-Kabir Sunan Al-Tarmizi. Beirut: Dar AL-gharb Al-Islamiyah, 1998.
Saurabh, Muhammad bin Isa bin. Al-Jamik Al-Kabir Sunan Al-Tirmidzi. Beirut Dar Al-Gha, 1998.
[1] Mohammad Andsi Rathomy, Terjemah Hadis Bukhari Jilid 1, (Surabaya: Toko Kita' Al-Asriyah, 1981), h. 92.
[2] Abu Muhammad Abdullah Bin Abdurrahman, Musnad Addarimi Cetakan Pertama, (Saudi Arabiah: Dar Al-Mughni, 2000 ), 316.
[3] MUhammad bin Isa bin Saurabh, Al-Jamik Al-Kabir Sunan Al-Tirmidzi,(Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islamiy, 1998), 1875.
[4] Muslim bin Al-Hajjaj Abu Al-Hasan AL-Qusyairy An-Naisabururi, Kitab Al-Musnad As-Shahih (Beirus : Dar Ihya At-Turats Al-Arubi), h 4867.
[5] Muhammad bin Isa bin Saurabh, Al-Jami Al-Kabir Sunan Al-Tarmizi (Beirut: Dar AL-gharb Al-Islamiyah, 1998), h 4867.
[6] Muhammad Andai Rathoniy, Terjemah Hadis Shahih Bukhari Jilid Cetakan Ke 2 (Surabaya: Toko Kitab ’ Al Asriyah", 1981), h 89.
[7] Mohammad Andai Rathonay, Terjemah Hadis Shahih Bukhari Jilid 1 Cetakan Kedua (Surabaya: Toko Kitab ’ Al Asriyah", 1981), h 72.
[8] Muhammad bin Isamil Abu Abdillah Al- Bukhari Al-Jufi, Kitab Al-Jami Musnan As-Shahih Cetakan 1 (Saudi Arabiah: Dar tuqan najah, 2001), h 3027.
terimakasih atas ilmunya, ini sangat bermanfaat
BalasHapus